Rabu, 07 Oktober 2009
Fitnah An-Nazhar (Bahaya Pandangan...)
Jauh empat belas abad yang lampau Rasulullah telah mengingatkan kita dengan sabdanya : "Tiada suatu fitnah (bencana) sepeninggalku yang lebih berbahaya bagi kaum pria selain daripada wanita." (Muttafaqun `Alaih).
Rasulullah juga bersabda:"Sesungguhnya dunia itu manis nan menawan, dan sesungguhnya ALLAH memberikan penguasaannya kepada kamu sekalian, kemudian Dia melihat apa yang kamu kerjakan. Maka berhati-hatilah kamu terhadap (godaan) dunia dan wanita, karena sesungguhnya sumber bencana Bani Israil adalah wanita." (H.R. Muslim)
1. Meyakini tentang perintah ALLAH berkenaan dengan perintah untuk menundukkan pandangan (ghadhdhul bashar) dan larangan melepaskan pandangan kepada hal-hal yang haram. Diantaranya firman ALLAH: "Katakanlah kepada laki-laki yang beriman:"Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya ALLAH Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". (QS. 24:30)
"Sesungguhnya ALLAH telah menetapkan bagi anak Adam mendapat bagian dari zina, tidak boleh tidak, zina kedua mata ialah memandang, zina lidah ialah perkataan, dan zina hati ialah keinginan dan syahwat, sedang faraj (kemaluan) saja yang menentukan benar ataau tidaknya dia berbuat zina." (Muattafaqun `Alaih)
Dari Jarir bin Abdillah berkata : Saya bertanya kepada Rasulullah mengenai "pandangan yang tiba-tiba", maka beliau bersabda :"Palingkan pandanganmu." ( H.R. Muslim dan Abu Daud, lafadz hadits Abu Daud) Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda:"Jangan kamu ikuti pandangan (pertama) itu dengan pandangan (berikutnya), pandangan pertama untukmu, dan tidak untuk yang pandangan kedua." ( H.R. Tirmidzi dan Abu Daud, Tirmidzi dan AlBani menilai hadits ini hasan.) Yang dimaksud dengan pandangan pertama adalah pandangan yang terlontar tanpa sengaja.
2. Berlindung kepada ALLAH dan berpaling dari fitnah nazhar ini, serta mengikat diri terhadap syahwat pandangan sebagai tindakan pencegahan untuk melindungi diri dari kejahatan fitnah tersebut. Dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Muslim : "Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua tersesat kecuali yang Aku beri hidayah (petunjuk), maka mintalah petunjuk itu dari-Ku niscaya kalian akan Ku tunjuki." Firman ALLAH : "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS. 2:186)
Beliau berdoa :"Ya ALLAH, jadikanlah bagi kami dari rasa ketakutan kami terhadap-Mu sebagai dinding pemisah antara kami dengan kemaksiatan kepada-Mu." ( H.R. At-Tirmidzi dan Al Bani menilai hadits ini hasan.)
Beliau juga berdoa : "Ya ALLAH, aku berlindung kepada-Mu dari bahaya pendengaranku, penglihatanku, lidahku, hatiku dan maniku." (H.R. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Bani.)
3. Pada prinsipnya kita mengetahui dan menyadari, bahwa pada situasi dan kondisi bagaimana pun Anda tidak memiliki hak khiyar (pilihan) dalam perkara ini. Kita wajib menundukkan pandangan kita terhadap hal-hal yang diharamkan, di seluruh tempat, waktu dan kondisi. Tidak ada alasan bagi kita untuk ikut tergelincir pada kerusakan moral dan membebaskan diri dari kesalahan dengan adanya situasi dan kondisi yang merangsang kita melakukankan fitnah tersebut. Firman ALLAH :"Dan tidakkah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila ALLAH dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.Dan barang siapa mendurhakai ALLAH dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata." (QS. 33:36)
4. Menghadirkan pengawasan ALLAH dan keluasan ilmu-Nya sehingga kita merasa takut dan malu kepada-Nya ketika ada kesempatan berbuat dosa. Firman ALLAH : "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya." (QS. 50:16) "Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati". (QS. 40:19) Rasulullah bersabda : "Saya wasiatkan kepadamu, hendaklah kamu malu (berbuat dosa) di hadapan ALLAH seperti kamu malu (berbuat dosa) di hadapan seorang yang shalih dari kaummu." H.R. Al Hasan bin Sufyan, Ahmad dalam kitab Az Zuhud dan dishahihkan oleh Al Bani.
5. Kita menyadari bahwa kedua mata kita akan menjadi saksi di Yaumil Hisab kelak atas apa yang kita lihat selama hidup di dunia. Firman ALLAH : "Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan." (QS. 41:20)
Dalam shahih Muslim dari Anas berkata:"Pada suatu hari kami sedang bersama-sama Rasulullah kemudian beliau tertawa, maka beliau bertanya : "Apakah kalian mengetahui apa yang menjadikan saya tertawa ?", kami menjawab : "ALLAH dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Rasulullah n bersabda : (Seorang hamba bertanya kepada Rabbnya : "Wahai Rabbku bukankah kamu berjanji untuk melindungiku dari tindakan kezhaliman, ALLAH l menjawab : "Benar". Kemudian hamba tersebut berkata : Saya tidak memperkenankan (perhitungan) atas diri saya kecuali dihadirkan saksi dari diriku sendiri". ALLAH berkata: "Cukuplah bagimu saksinya dirimu sendiri pada hari ini dan para Malaikat pencatat. Maka mulutnya terkunci dan diperintahkan kepada seluruh anggota tubuhnya untuk berbicara, maka anggota tubuhnya menceritakan seluruh perbuatannya, lalu orang tersebut dipersilahkan untuk berbicara,ia berkata: menjauhlah engkau (kepada anggota tubuhnya) selanjutnya ia berdebat dengannya." Dari sini telah menjadi jelas bahwa mata yang anda tundukkan dari hal-hal yang haram akan memberikan persaksian terhadap anda di hari Qiamat maka ikatlah ia dari hal-hal yang haram.
6. Mengingat eksistensi Malaikat yang bertugas mencatat segala perbuatan anda. Firman ALLAH :"Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (QS. 50:18)
"Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi ALLAH) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. 82:10-12)
7. Mengingat bahwa bumi yang kita pijak akan memberikan persaksian atas seluruh peristiwa kemaksiatan yang terjadi diatasnya. ALLAH l berfirman mengenai ihwal bumi pada Hari Qiamat kelak : "Pada hari itu bumi menceritakan beritanya." (QS. 99:4) Nabi menafsirkan ayat ini dengan sabdanya : "Akhbaaruhaa (beritanya) yaitu dengan bumi ini bersaksi atas setiap manusia dan umat terhadap setiap perbuatan yang dilakukannya di permukaan bumi, dengan berkata : (Dia melakukan ini dan begini, pada hari ini dan ini)". H.R. At Tirmidzi, dan berkata : "Hadits hasan shahih".
8. Ingatlah bahwa bidadari yang menyejukkan mata menunggu para penghuni surga, dari Abu Hurairah dari Nabi : "Setiap lelaki penduduk syurga memiliki dua istri dari bidadari yang cantik jelita, setiap bidadari memiliki 70 pakaian, tampak sumsum betisnya dari belakang daging.
Disarikan dari : Fitnah An-Nazhar wa `Ilajiha.
Rasulullah juga bersabda:"Sesungguhnya dunia itu manis nan menawan, dan sesungguhnya ALLAH memberikan penguasaannya kepada kamu sekalian, kemudian Dia melihat apa yang kamu kerjakan. Maka berhati-hatilah kamu terhadap (godaan) dunia dan wanita, karena sesungguhnya sumber bencana Bani Israil adalah wanita." (H.R. Muslim)
1. Meyakini tentang perintah ALLAH berkenaan dengan perintah untuk menundukkan pandangan (ghadhdhul bashar) dan larangan melepaskan pandangan kepada hal-hal yang haram. Diantaranya firman ALLAH: "Katakanlah kepada laki-laki yang beriman:"Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya ALLAH Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". (QS. 24:30)
"Sesungguhnya ALLAH telah menetapkan bagi anak Adam mendapat bagian dari zina, tidak boleh tidak, zina kedua mata ialah memandang, zina lidah ialah perkataan, dan zina hati ialah keinginan dan syahwat, sedang faraj (kemaluan) saja yang menentukan benar ataau tidaknya dia berbuat zina." (Muattafaqun `Alaih)
Dari Jarir bin Abdillah berkata : Saya bertanya kepada Rasulullah mengenai "pandangan yang tiba-tiba", maka beliau bersabda :"Palingkan pandanganmu." ( H.R. Muslim dan Abu Daud, lafadz hadits Abu Daud) Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda:"Jangan kamu ikuti pandangan (pertama) itu dengan pandangan (berikutnya), pandangan pertama untukmu, dan tidak untuk yang pandangan kedua." ( H.R. Tirmidzi dan Abu Daud, Tirmidzi dan AlBani menilai hadits ini hasan.) Yang dimaksud dengan pandangan pertama adalah pandangan yang terlontar tanpa sengaja.
2. Berlindung kepada ALLAH dan berpaling dari fitnah nazhar ini, serta mengikat diri terhadap syahwat pandangan sebagai tindakan pencegahan untuk melindungi diri dari kejahatan fitnah tersebut. Dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Muslim : "Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua tersesat kecuali yang Aku beri hidayah (petunjuk), maka mintalah petunjuk itu dari-Ku niscaya kalian akan Ku tunjuki." Firman ALLAH : "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS. 2:186)
Beliau berdoa :"Ya ALLAH, jadikanlah bagi kami dari rasa ketakutan kami terhadap-Mu sebagai dinding pemisah antara kami dengan kemaksiatan kepada-Mu." ( H.R. At-Tirmidzi dan Al Bani menilai hadits ini hasan.)
Beliau juga berdoa : "Ya ALLAH, aku berlindung kepada-Mu dari bahaya pendengaranku, penglihatanku, lidahku, hatiku dan maniku." (H.R. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Bani.)
3. Pada prinsipnya kita mengetahui dan menyadari, bahwa pada situasi dan kondisi bagaimana pun Anda tidak memiliki hak khiyar (pilihan) dalam perkara ini. Kita wajib menundukkan pandangan kita terhadap hal-hal yang diharamkan, di seluruh tempat, waktu dan kondisi. Tidak ada alasan bagi kita untuk ikut tergelincir pada kerusakan moral dan membebaskan diri dari kesalahan dengan adanya situasi dan kondisi yang merangsang kita melakukankan fitnah tersebut. Firman ALLAH :"Dan tidakkah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila ALLAH dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.Dan barang siapa mendurhakai ALLAH dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata." (QS. 33:36)
4. Menghadirkan pengawasan ALLAH dan keluasan ilmu-Nya sehingga kita merasa takut dan malu kepada-Nya ketika ada kesempatan berbuat dosa. Firman ALLAH : "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya." (QS. 50:16) "Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati". (QS. 40:19) Rasulullah bersabda : "Saya wasiatkan kepadamu, hendaklah kamu malu (berbuat dosa) di hadapan ALLAH seperti kamu malu (berbuat dosa) di hadapan seorang yang shalih dari kaummu." H.R. Al Hasan bin Sufyan, Ahmad dalam kitab Az Zuhud dan dishahihkan oleh Al Bani.
5. Kita menyadari bahwa kedua mata kita akan menjadi saksi di Yaumil Hisab kelak atas apa yang kita lihat selama hidup di dunia. Firman ALLAH : "Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan." (QS. 41:20)
Dalam shahih Muslim dari Anas berkata:"Pada suatu hari kami sedang bersama-sama Rasulullah kemudian beliau tertawa, maka beliau bertanya : "Apakah kalian mengetahui apa yang menjadikan saya tertawa ?", kami menjawab : "ALLAH dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Rasulullah n bersabda : (Seorang hamba bertanya kepada Rabbnya : "Wahai Rabbku bukankah kamu berjanji untuk melindungiku dari tindakan kezhaliman, ALLAH l menjawab : "Benar". Kemudian hamba tersebut berkata : Saya tidak memperkenankan (perhitungan) atas diri saya kecuali dihadirkan saksi dari diriku sendiri". ALLAH berkata: "Cukuplah bagimu saksinya dirimu sendiri pada hari ini dan para Malaikat pencatat. Maka mulutnya terkunci dan diperintahkan kepada seluruh anggota tubuhnya untuk berbicara, maka anggota tubuhnya menceritakan seluruh perbuatannya, lalu orang tersebut dipersilahkan untuk berbicara,ia berkata: menjauhlah engkau (kepada anggota tubuhnya) selanjutnya ia berdebat dengannya." Dari sini telah menjadi jelas bahwa mata yang anda tundukkan dari hal-hal yang haram akan memberikan persaksian terhadap anda di hari Qiamat maka ikatlah ia dari hal-hal yang haram.
6. Mengingat eksistensi Malaikat yang bertugas mencatat segala perbuatan anda. Firman ALLAH :"Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (QS. 50:18)
"Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi ALLAH) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. 82:10-12)
7. Mengingat bahwa bumi yang kita pijak akan memberikan persaksian atas seluruh peristiwa kemaksiatan yang terjadi diatasnya. ALLAH l berfirman mengenai ihwal bumi pada Hari Qiamat kelak : "Pada hari itu bumi menceritakan beritanya." (QS. 99:4) Nabi menafsirkan ayat ini dengan sabdanya : "Akhbaaruhaa (beritanya) yaitu dengan bumi ini bersaksi atas setiap manusia dan umat terhadap setiap perbuatan yang dilakukannya di permukaan bumi, dengan berkata : (Dia melakukan ini dan begini, pada hari ini dan ini)". H.R. At Tirmidzi, dan berkata : "Hadits hasan shahih".
8. Ingatlah bahwa bidadari yang menyejukkan mata menunggu para penghuni surga, dari Abu Hurairah dari Nabi : "Setiap lelaki penduduk syurga memiliki dua istri dari bidadari yang cantik jelita, setiap bidadari memiliki 70 pakaian, tampak sumsum betisnya dari belakang daging.
Disarikan dari : Fitnah An-Nazhar wa `Ilajiha.
Selasa, 01 September 2009
Upaya Obama Untuk Perdamaian di Kawasan Timur Tengah… Mau Kemana?
Mufid Awad
Al-Wathan Omaniah
Para pengamat dan pihak-pihak yang berkempentingan dari berbagai pihak kini sedang menyampaikan satu pertanyaan saja, apakah presiden Amerika, Barack Obama serius dalam mewujudkan perdamaian dalam konflik Arab – Israel?
Dua kemungkinan akan bisa menjawab pertanyaan di atas; optimis dan pesimis berlebihan. Namun jika berusaha menyimpulkan dari dua kemungkinan di atas, kita akan menemukan jawaban jelas yang bisa memberikan penilaian yang benar dan jawaban langsung dan mana kemungkinan paling berpeluang terjadi selama masa-masa mendatang.
Seorang kolumnis Israel mengumpamakan apa yang terjadi antara presiden Obama dengan PM Netanyahu seperti pertandingan antara tim gajah dengan tim tikus. Setelah pada babak pertama tim tikus mengalami kekalahan telak melawan tim gajah, pelatih tim tikus memerintahkan kepada timnya agar di babak kedua menghancurkan dan menggerogoti semua yang mereka injak untuk menghindar.
Selama lebih dari empat bulan, presiden Amerika mampu menggiring Netanyahu ke pojok arena yang hampir semua pejabat Israel mengalami sesak nafas. Meskipun mereka berusaha menghindar tanggungjawab di pojok “permukiman yahudi” dan menghentikannya dengan berbagai bentuk. Misalnya dengan perundingan politik yang didasarkan kepada solusi adanya dua negara, Palestina dan Israel di wilayah Palestina. Namun Netanyahu tidak menemukan cara untuk menghindar melainkan dengan cara tikus sebagai upaya menghindar ketika terpojok. Ia mengira bahwa cara ini akan memojokkan Amerika dan di sisi lain, Netanyahu bisa meringankan tekanan dari Obama.
Netanyahu berusaha memojokkan presiden Obama di pojok berlawanan yakni dengan masalah Al-Quds. Dengan cara apa? Dengan mengintensifkan pembangunan permukiman Yahudi di kota suci itu dan melalui prosedur penjajahan lainnya. Pertandingan memang tidak layak antara Amerika dengan Israel yang merupakan anak piaraannya.
Israel mengakui bahwa pertandingan Netanyahu dengan Obama tidak seimbang dengan standar apapun. Bukan saja karena Amerika mampu memaksakan politiknya di kawasan Timur Tengah (Timteng) atau bahkan di dunia, namun karena presiden Obama menilai masalah permukiman Yahudi dimana semua dunia sepakat menolaknya baik pemerintah atau rakyatnya, menjadi satu-satunya penghalang utama perundingan yang diharapkan di kawasan Timteng. Sementara Netanyahu menyadari bahwa Al-Quds menjadi masalah kesepakatan di Israel untuk tetap dibawah kekangannya.
Obama berjanji kepada rakyatnya dan kepada dunia untuk mengubah kebijakan politik Amerika. Politik yang melahirkan rasa kebencian terhadap negerinya dari semua bangsa dunia. Dari sisi ini, agaknya Obama bertekad mewujudkan apa yang dijanjikan. Ada sejumlah indikasi perubahan politik yang berbeda dengan politik pendahulunya. Misalnya rekonsiliasi besar yang dilakukan Obama dengan dunia Arab dan Islam dimana pemecahan masalah Palestina adalah inti dari rekonsiliasi ini.
Sementara di sisi lain, Israel menilai bahwa pembekuan permukiman Yahudi adalah bunuh diri dan membuka peluang besar untuk menarik diri dari wilayah jajahan tahun 1967. Ini yang tidak diinginkan oleh Israel. Sementara pemerintah Amerika menilai bahwa pembekuan permukiman adalah jalan masuk satu-satunya mendirikan negara Palestina yang layak hidup. Selain itu, Israel menilai bahwa penarikan mereka dari wilayah jajahan itu adalah akan mengancam keamanannya di sisi lain. Amerika menilai bahwa dengan itu mereka akan mewujudkan sejumlah kepentingan di bidang keamanan dan ekonomi disamping stabilitas keamanan di kawasan akan terwujud dengan jelas bagi Amerika dan dunia.
Dari sini, mungkin kita bisa menyimpulkan jawaban pertanyaan di awal artikel ini yang jauh dari optimisme atau keputus-asaan dan jauh dari vonis terlalu dini dari peristiwa sekarang. Jawaban dari pertanyaan di atas tidak akan keluar dari dua kemungkinan, dan tidak ada kemungkinan ketiga. Di masa mendatang yang menjadi judul bodoh adalah pertarungan Israel dengan Amerika atau kecongkakan Israel ini akan berakhir dengan penarikan Israel dari wilayah jajahan Juni 1967?? (bn-bsyr)
Kolumnis Palestina tinggal di Jordania
Al-Wathan Omaniah
Para pengamat dan pihak-pihak yang berkempentingan dari berbagai pihak kini sedang menyampaikan satu pertanyaan saja, apakah presiden Amerika, Barack Obama serius dalam mewujudkan perdamaian dalam konflik Arab – Israel?
Dua kemungkinan akan bisa menjawab pertanyaan di atas; optimis dan pesimis berlebihan. Namun jika berusaha menyimpulkan dari dua kemungkinan di atas, kita akan menemukan jawaban jelas yang bisa memberikan penilaian yang benar dan jawaban langsung dan mana kemungkinan paling berpeluang terjadi selama masa-masa mendatang.
Seorang kolumnis Israel mengumpamakan apa yang terjadi antara presiden Obama dengan PM Netanyahu seperti pertandingan antara tim gajah dengan tim tikus. Setelah pada babak pertama tim tikus mengalami kekalahan telak melawan tim gajah, pelatih tim tikus memerintahkan kepada timnya agar di babak kedua menghancurkan dan menggerogoti semua yang mereka injak untuk menghindar.
Selama lebih dari empat bulan, presiden Amerika mampu menggiring Netanyahu ke pojok arena yang hampir semua pejabat Israel mengalami sesak nafas. Meskipun mereka berusaha menghindar tanggungjawab di pojok “permukiman yahudi” dan menghentikannya dengan berbagai bentuk. Misalnya dengan perundingan politik yang didasarkan kepada solusi adanya dua negara, Palestina dan Israel di wilayah Palestina. Namun Netanyahu tidak menemukan cara untuk menghindar melainkan dengan cara tikus sebagai upaya menghindar ketika terpojok. Ia mengira bahwa cara ini akan memojokkan Amerika dan di sisi lain, Netanyahu bisa meringankan tekanan dari Obama.
Netanyahu berusaha memojokkan presiden Obama di pojok berlawanan yakni dengan masalah Al-Quds. Dengan cara apa? Dengan mengintensifkan pembangunan permukiman Yahudi di kota suci itu dan melalui prosedur penjajahan lainnya. Pertandingan memang tidak layak antara Amerika dengan Israel yang merupakan anak piaraannya.
Israel mengakui bahwa pertandingan Netanyahu dengan Obama tidak seimbang dengan standar apapun. Bukan saja karena Amerika mampu memaksakan politiknya di kawasan Timur Tengah (Timteng) atau bahkan di dunia, namun karena presiden Obama menilai masalah permukiman Yahudi dimana semua dunia sepakat menolaknya baik pemerintah atau rakyatnya, menjadi satu-satunya penghalang utama perundingan yang diharapkan di kawasan Timteng. Sementara Netanyahu menyadari bahwa Al-Quds menjadi masalah kesepakatan di Israel untuk tetap dibawah kekangannya.
Obama berjanji kepada rakyatnya dan kepada dunia untuk mengubah kebijakan politik Amerika. Politik yang melahirkan rasa kebencian terhadap negerinya dari semua bangsa dunia. Dari sisi ini, agaknya Obama bertekad mewujudkan apa yang dijanjikan. Ada sejumlah indikasi perubahan politik yang berbeda dengan politik pendahulunya. Misalnya rekonsiliasi besar yang dilakukan Obama dengan dunia Arab dan Islam dimana pemecahan masalah Palestina adalah inti dari rekonsiliasi ini.
Sementara di sisi lain, Israel menilai bahwa pembekuan permukiman Yahudi adalah bunuh diri dan membuka peluang besar untuk menarik diri dari wilayah jajahan tahun 1967. Ini yang tidak diinginkan oleh Israel. Sementara pemerintah Amerika menilai bahwa pembekuan permukiman adalah jalan masuk satu-satunya mendirikan negara Palestina yang layak hidup. Selain itu, Israel menilai bahwa penarikan mereka dari wilayah jajahan itu adalah akan mengancam keamanannya di sisi lain. Amerika menilai bahwa dengan itu mereka akan mewujudkan sejumlah kepentingan di bidang keamanan dan ekonomi disamping stabilitas keamanan di kawasan akan terwujud dengan jelas bagi Amerika dan dunia.
Dari sini, mungkin kita bisa menyimpulkan jawaban pertanyaan di awal artikel ini yang jauh dari optimisme atau keputus-asaan dan jauh dari vonis terlalu dini dari peristiwa sekarang. Jawaban dari pertanyaan di atas tidak akan keluar dari dua kemungkinan, dan tidak ada kemungkinan ketiga. Di masa mendatang yang menjadi judul bodoh adalah pertarungan Israel dengan Amerika atau kecongkakan Israel ini akan berakhir dengan penarikan Israel dari wilayah jajahan Juni 1967?? (bn-bsyr)
Kolumnis Palestina tinggal di Jordania
Langganan:
Postingan (Atom)